CoreNews.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyiapkan Zona Kopi, Teh, dan Kakao (KoTeKa) dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Zona KoTeKa menjadi area tematik yang untuk pertama kalinya mengintegrasikan tiga komoditas perkebunan tersebut dalam satu lokasi. Fasilitas ini ditujukan untuk memudahkan pembeli mancanegara menemukan produk Indonesia sekaligus membuka peluang transaksi ekspor.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan pengelompokan produk berdasarkan zona tematik diharapkan mempertemukan pelaku usaha nasional dengan calon pembeli secara lebih terarah.
“Melalui pengelompokan zona ini, kami ingin memastikan buyer internasional lebih mudah menemukan produk sesuai kebutuhan mereka,” kata Puntodewi.
Kemendag memfasilitasi 20 pelaku usaha hasil kurasi untuk mengikuti Zona KoTeKa. Area ini terdiri atas Paviliun Kopi dan Teh seluas 108 meter persegi serta Paviliun Kakao seluas 54 meter persegi. Zona tersebut menjadi bagian dari Food, Beverage, and Agriculture Products, kategori dengan jumlah peserta terbanyak di TEI 2026, yakni 754 ekshibitor. Pada komoditas kopi, peserta berasal dari sejumlah daerah sentra produksi, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Jawa Timur, dan Lampung. Mereka terdiri atas perusahaan eksportir hingga koperasi petani.
Kemendag mencatat nilai ekspor kopi Indonesia pada 2025 mencapai US$2,51 miliar dengan volume 510.759 ton. Nilai tersebut meningkat 53,2 persen dibandingkan capaian 2024. Kinerja tersebut menunjukkan besarnya peluang kopi Indonesia di pasar internasional. Melalui TEI 2026, pelaku usaha diharapkan dapat memperluas jaringan pembeli, menjajaki pasar baru, dan meningkatkan nilai perdagangan.
Kehadiran Zona KoTeKa juga menjadi kesempatan bagi eksportir untuk memperkenalkan produk unggulan kepada calon mitra dagang dalam satu area pameran. Kemendag berharap fasilitas ini dapat meningkatkan efektivitas promosi sekaligus mendorong komoditas perkebunan Indonesia semakin kompetitif di pasar global.













