Corenews.id
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini
Corenews.id
No Result
View All Result

Dunia Masih Gagal Melindungi Anak-Anak: Mengapa 2026 Harus Jadi Titik Balik Global

by Teguh Imam Suyudi
1 Januari 2026 | 17:00
in Opini
Ilustrasi Anak Sedang Makan Dibuat oleh Kecerdasan Buatan

Ilustrasi Anak Sedang Makan Dibuat oleh Kecerdasan Buatan

Bagikan sekarang:

Penulis: Inger Ashing

Jakarta, CoreNews.id – Memasuki tahun 2026, satu kenyataan pahit tak bisa disangkal: dunia masih gagal melindungi anak-anaknya. Di saat kebutuhan anak mencapai titik tertinggi dalam sejarah modern, sistem kemanusiaan global justru berada dalam kondisi paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir.

Peristiwa sepanjang 2025 menjadi titik balik yang mengguncang upaya kemanusiaan dan pembangunan dunia. Ketika Amerika Serikat menghentikan bantuan luar negerinya secara mendadak pada Januari 2025, miliaran dolar bantuan lenyap dalam semalam. Program-program vital terhenti, kantor-kantor kemanusiaan ditutup, dan jutaan orang kehilangan akses terhadap makanan, layanan kesehatan, pendidikan, serta perlindungan.

Seperti yang kerap terjadi, anak-anak menjadi pihak yang paling menderita.

Dampak Langsung Pemotongan Bantuan Kemanusiaan

Bagi organisasi non-pemerintah internasional, dampaknya terasa seketika. Save the Children, yang telah berdiri lebih dari satu abad, terpaksa mengambil keputusan paling sulit dalam sejarahnya: menutup kantor di sejumlah negara, memangkas ribuan staf, dan menghentikan operasi penyelamatan nyawa.

Diperkirakan sekitar 11,5 juta orang, termasuk 6,7 juta anak, terdampak langsung oleh pemotongan tersebut, dengan jutaan lainnya menghadapi dampak jangka panjang.

Krisis ini terjadi di saat anak-anak di seluruh dunia sudah menghadapi tekanan besar akibat konflik bersenjata, pengungsian massal, dan perubahan iklim. Puluhan tahun kemajuan global terancam mundur drastis.

Angka yang Menggambarkan Kegagalan Dunia

Data tahun 2025 menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan:

  • 1 dari 5 anak hidup di zona konflik aktif
  • 50 juta anak terpaksa mengungsi dari rumah mereka
  • 1,12 miliar anak tidak mampu mengakses makanan bergizi seimbang
  • 272 juta anak tidak bersekolah

Di balik setiap angka tersebut, ada anak yang kehilangan masa kecilnya—hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan ketidakpastian masa depan.

READ  Gencatan Senjata Gaza Buka Akses Bantuan, Anak-anak Masih Terancam

Saat Sistem Bantuan Global Terbukti Rapuh

Bagi anak-anak, runtuhnya bantuan bukan sekadar keputusan anggaran, melainkan pengalaman traumatis. Klinik kesehatan ditutup, sekolah berhenti beroperasi, dan layanan perlindungan menghilang tepat saat kekerasan, bencana iklim, dan pengungsian semakin meningkat.

Krisis ini juga membuka mata dunia akan rapuhnya sistem bantuan global yang sangat bergantung pada segelintir donor negara. Ketika arah politik berubah, dampaknya langsung menghantam kehidupan anak-anak yang paling rentan.

Harapan dari Akar Rumput dan Komunitas Lokal

Namun, di tengah kekacauan tersebut, muncul secercah harapan. Di berbagai tempat, keluarga, guru, tenaga kesehatan, dan organisasi lokal berjuang menjaga pendidikan tetap berjalan, menyediakan layanan dasar, dan menciptakan ruang aman bagi anak-anak.

Upaya ini menegaskan satu kebenaran penting: respons kemanusiaan paling kuat adalah yang berakar dekat dengan komunitas anak itu sendiri.

Kemajuan Kecil yang Membawa Harapan Besar

Meski dunia mengalami kemunduran hak asasi manusia, beberapa kemajuan penting tetap tercapai. Thailand melarang hukuman fisik terhadap anak, Bolivia mengkriminalisasi pernikahan anak dan mengesahkan undang-undang perlindungan digital, serta reformasi hukum lain yang memperkuat perlindungan anak.

Hal ini membuktikan bahwa perubahan tetap mungkin terjadi, bahkan di masa tersulit sekalipun.

2026: Saatnya Mengubah Model Bantuan Dunia

Guncangan 2025 menjadi momentum refleksi global. Dunia kini dihadapkan pada pilihan penting: membangun sistem bantuan yang lebih berkelanjutan, dipimpin secara lokal, dan bertanggung jawab langsung kepada anak-anak yang dilayaninya.

Pertanyaan besar tak bisa lagi ditunda:

  • Bagaimana bantuan kemanusiaan dilindungi dari gejolak politik?
  • Bagaimana pendanaan dapat didiversifikasi agar tidak bergantung pada satu donor?
  • Bagaimana anak-anak dilibatkan secara bermakna dalam keputusan yang menentukan masa depan mereka?

Inovasi teknologi dapat membantu, tetapi bukan solusi tunggal. Tantangan utamanya bersifat politik dan etis.

READ  Alasan Sebenarnya Israel Menyerang Iran

Anak-Anak Tetap Bermimpi, Dunia Tak Boleh Menyerah

Anak-anak tidak berhenti ingin belajar, bermain, dan bermimpi meski perang berkecamuk atau bantuan menghilang. Di kamp pengungsian dan kota-kota yang hancur, mereka tetap bersuara dan membayangkan masa depan yang lebih baik.

Pengalaman di Gaza menjadi pengingat paling menyakitkan. Anak-anak hidup di bawah teror berkepanjangan, menghadapi malnutrisi, kehilangan orang tua, bahkan merasa kematian lebih baik daripada hidup dalam ketakutan. Tak ada anak yang seharusnya hidup dalam kondisi seperti itu.

Menjadikan 2026 Titik Balik untuk Anak Dunia

Jika 2025 membuka mata dunia atas kegagalan sistem lama, maka 2026 harus menjadi titik balik. Dunia memiliki pilihan untuk membangun sistem yang tangguh terhadap guncangan politik, berbasis kepemimpinan lokal, dan benar-benar menempatkan anak-anak sebagai pusat kebijakan.

Apa pun perubahan dunia ke depan, satu prinsip harus tetap teguh: anak-anak harus selalu didahulukan, di mana pun dan kapan pun.

Sumber: Al Jazeera.com

Pandangan dalam artikel ini merupakan pendapat penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi CoreNews.id.

Tags: Anak DuniaHak AnakKrisis Kemanusiaan
Previous Post

Resmi! Cuti Bersama 2026 Ditetapkan: Kalender 2026 Lengkap Tanggal Merah, Libur Lebaran Terpanjang, dan Long Weekend

Next Post

Pajak 2025 Jeblok dari Target APBN, Menkeu Ungkap Biang Keroknya & Bocorkan Jurus Dongkrak Ekonomi 6%

Next Post
penerimaan-pajak-2025-di-bawah-target-apbn-ekonomi-lesu

Pajak 2025 Jeblok dari Target APBN, Menkeu Ungkap Biang Keroknya & Bocorkan Jurus Dongkrak Ekonomi 6%

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PARIWARA

bpr-penataran-transformasi-layanan-top-bumd-awards-2026

Kesuksesan Transformasi BPR Penataran Pukau Juri TOP BUMD Awards 2026

22 Januari 2026 | 15:00
rsud-sambas-transformasi-layanan-kesehatan-top-bumd-awards-2026

RSUD Sambas Paparkan Transformasi Layanan Kesehatan di TOP BUMD Awards 2026

14 Januari 2026 | 22:00
Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

22 Desember 2025 | 17:00
Perumda Air Minum Kota Padang TOP Digital Awards 2025

Mengalirkan Inovasi, Menyemai Layanan: Perumda Air Minum Kota Padang Kembali Raih TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 09:00
Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 08:00
RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Perkuat Transformasi Digital untuk Tingkatkan Mutu Layanan, RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 07:00

POPULER

Menurut Yvonne, Indonesia mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan Internasional yang ditahan.

Sembilan WNI Ditangkap Israel, Kemenlu Upayakan Pembebasan

20 Mei 2026 | 10:49
Menurut Prabowo kembali, lewat kebijakan tersebut, kas negara diproyeksikan bisa mengamankan potensi penghasilan hingga 150 miliar dolar AS. Nilai itu setara dengan Rp2.653,92 triliun per tahun (asumsi kurs Rp17.692 per Dolar AS)

Pemerintah Bentuk Badan Ekspor Dengan Potensi Penghasilan Hingga 150 Miliar Dolar AS

20 Mei 2026 | 14:02
Dalam perspektif ekonomi syariah, potensi pengembangan lembaga penjaminan juga besar. Skema Kafalah dapat diperluas untuk mendukung pembiayaan UMKM syariah, koperasi syariah, BMT, serta rantai nilai halal. Penguatan penjaminan syariah akan melengkapi grand desain dan arsitektur keuangan syariah nasional, terutama dalam mendukung pengembangan sektor riil berbasis halal.

Transformasi dan Penguatan Industri Penjaminan untuk Mendorong Pembiayaan dan Mewujudkan Stabilitas Sistem Keuangan

20 Mei 2026 | 15:39
Grey Bukan Sekadar Warna, New Balance Rayakan Identitas Urban Lewat Grey Days 2026

Grey Bukan Sekadar Warna, New Balance Rayakan Identitas Urban Lewat Grey Days 2026

20 Mei 2026 | 12:45
Selain rupiah, ringgit Malaysia terkoreksi 0,09%. Dolar Taiwan tertekan 0,07% dan baht Thailand tertekan 0,06%. Won Korea Selatan juga turun 0,04%. Selain itu, dolar Hong Kong melemah tipis 0,008%.

Rupiah Terjun Bebas Menjadi Rp 17.738 Per Dolar AS

20 Mei 2026 | 09:49
Sementara itu, harga emas di Pegadaian tetap naik. Harga emas UBS, Antam, dan Galeri24 masing-masing naik menjadi Rp 2.845.000, Rp 2.887.000, dan Rp 2.782.000 per gram. Ini dikutip dari laman Sahabat Pegadaian Jakarta, Rabu pukul 07.38 WIB. Sebelumnya, harga ketiganya di Pegadaian pada Selasa (19/5/2026) dicatat sebagai berikut. Harga emas UBS Rp 2.788.000, Antam Rp 2.861.000, dan Galeri24 Rp 2.756.000 per gram

Harga Emas Antam Turun, Harga Emas Pegadaian Naik

20 Mei 2026 | 10:16
  • Redaksi Corenews.id
  • Pedoman Media Siber
  • Email Login

Corenews.id | All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini

Corenews.id | All Rights Reserved