Jakarta, CoreNews.id – Struktur ekonomi Indonesia menghadapi tekanan serius seiring menyusutnya jumlah kelas menengah bawah dalam beberapa tahun terakhir. Data Mandiri Institute mencatat, lebih dari 11 juta orang keluar dari kelompok lower middle class (MC) sepanjang periode 2019 hingga 2025.
Secara keseluruhan, sekitar 86 juta penduduk atau satu dari tiga masyarakat Indonesia kini berada dalam kategori kelas menengah transisi. Kelompok ini mencakup upper aspiring middle class (AMC) dan lower middle class yang dikenal dinamis, namun rentan turun kelas.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai fenomena ini bukan sekadar perubahan statistik, melainkan sinyal pelemahan struktur konsumsi nasional. Menurut dia, kelas menengah bawah selama ini menjadi motor konsumsi barang kebutuhan sehari-hari.
“Ketika terjadi penurunan kelas, rumah tangga cenderung menahan belanja, terutama untuk barang tahan lama seperti elektronik dan kendaraan,” ujar Yusuf, 13/4/2026.
Dampaknya, sektor ritel modern hingga manufaktur berpotensi mengalami perlambatan. Sementara itu, kelompok upper aspiring middle class dinilai berada dalam posisi “serba tanggung”, karena tidak lagi sepenuhnya layak menerima bantuan sosial, tetapi belum kuat secara finansial.
Yusuf menambahkan, persoalan ini bersifat struktural. Tingginya informalitas kerja, keterbatasan akses pembiayaan, serta kenaikan biaya hidup menjadi faktor utama yang menekan daya beli masyarakat.
Selain itu, fenomena deindustrialisasi dini turut mempersempit peluang mobilitas sosial. Melemahnya sektor manufaktur membuat kelompok menengah bawah kehilangan jalur utama untuk naik kelas ekonomi.
Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah dinilai perlu memperkuat perlindungan sosial adaptif, mendorong transformasi sektor informal, serta mempercepat reindustrialisasi berbasis nilai tambah.
Tanpa langkah strategis, penurunan kelas menengah berisiko menahan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.













