Jakarta, CoreNews.id – Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal perdagangan Senin (8/6/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik Israel-Iran serta serangan udara terbaru Israel ke wilayah Lebanon memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah acuan dunia naik lebih dari US$2 per barel pada perdagangan awal pekan. Kenaikan tersebut terjadi setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah sekitar Beirut, Lebanon, pada Minggu (7/6/2026).
Harga Brent dan WTI Melonjak
Data perdagangan hingga pukul 22.15 GMT menunjukkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$2,57 menjadi US$93,11 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional melonjak US$2,67 hingga mencapai level US$95,76 per barel.
Lonjakan harga ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.
Sentimen Pasar Berbalik Arah
Sebelumnya, pelaku pasar sempat menunjukkan optimisme setelah Amerika Serikat mengumumkan draf rencana gencatan senjata untuk Lebanon pada pekan lalu. Harapan meredanya konflik sempat mendorong sentimen positif di pasar energi.
Namun, serangan terbaru Israel mengubah ekspektasi tersebut. Pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok minyak mentah dan meningkatkan volatilitas harga komoditas energi.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis pengiriman minyak dunia. Setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi arus distribusi energi global.
Risiko Pasokan Energi Global
Analis menilai konflik yang terus meluas di Timur Tengah dapat menjadi faktor utama yang menopang harga minyak dalam jangka pendek. Jika eskalasi militer berlanjut, pasar berpotensi menghadapi tekanan pasokan yang lebih besar sehingga mendorong harga energi semakin tinggi.
Dalam beberapa hari ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan konflik Israel-Iran serta dampaknya terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.













