Jakarta, CoreNews.id — Pembiayaan rumah bekas (secondary market) dan pembiayaan renovasi rumah maupun perluasan bangunan dibidik untuk dikembangkan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Hal ini karena pasar kredit pemilikan rumah (KPR) memang cenderung melandai, terutama untuk segmen nonsubsidi.
Hal ini disampaikan Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026 di Jakarta (16/7/2026). Menurut Nixon, perseroan melihat pasar rumah bekas masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Dan untuk mempercepat penyaluran KPR, BTN bekerja sama dengan platform jual beli properti digital, seperti Pinhome dan Rumah123. Dengan kerja sama tersebut, proses pengajuan kredit dipercepat sehingga pencairan pembiayaan diharapkan berlangsung lebih cepat.
Menurut Nixon kembali, kondisi likuiditas menjadi tantangan utama industri perbankan saat ini. Tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membuat dana di pasar semakin ketat sehingga memengaruhi kemampuan bank menyalurkan kredit. Terlebih, permintaan rumah dengan harga di atas Rp 1 miliar juga masih cenderung stagnan.
Sebagai informasi, sekalipun kondisi pasar belum sepenuhnya pulih, BTN mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. Laba bersih berhasil dibukukan sebesar Rp 2,40 triliun, naik 40,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penyaluran kredit dan pembiayaan BTN juga tumbuh 11,2 persen menjadi Rp 418,11 triliun. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) turun menjadi 2,99 persen, atau untuk pertama kalinya berada di bawah 3 persen.*













