Laporan Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners memproyeksikan ekonomi enam negara utama Asia Tenggara tetap tumbuh hingga 2035, meski menghadapi divergensi dan tantangan global.
Jakarta, CoreNews.ids – Perekonomian enam negara utama Asia Tenggara atau SEA-6 diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,8 persen per tahun sepanjang 2026-2035, meski kawasan tersebut menghadapi perbedaan ketahanan ekonomi dan kemampuan dalam menangkap peluang pertumbuhan.
Laporan From Tailwinds to Trade-Offs: Southeast Asia Outlook 2026–2035 yang disusun Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners menyebutkan pertumbuhan kawasan akan ditopang investasi asing, pembentukan modal, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan produktivitas melalui teknologi.
Pertumbuhan Negara Mulai Berbeda
Laporan tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan divergensi antarnegara. Vietnam diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan dengan rata-rata 6,2 persen, disusul Filipina 5,8 persen dan Indonesia 5,4 persen.
“Malaysia diproyeksikan tumbuh 4,3 persen, Singapura 2,7 persen, sementara Thailand 2,2 persen per tahun pada periode 2026-2035,” mengutip siaran pers DBS Indonesia, 17/9/2026.
Laporan juga mencatat arus masuk bersih investasi asing langsung (FDI) ke SEA-6 meningkat 25 persen pada 2025. Namun, investasi semakin terkonsentrasi pada sejumlah pusat ekonomi dan sektor tertentu.
Tiga Prioritas Pertumbuhan
Untuk menghadapi perubahan ekonomi global, laporan mengidentifikasi tiga prioritas utama, yakni memperkuat ketahanan institusi, meningkatkan sistem energi, serta memanfaatkan potensi kecerdasan buatan (AI).
Pemanfaatan AI dinilai perlu bergerak dari tahap uji coba menuju penerapan berskala perusahaan. Hal itu membutuhkan tata kelola data yang kredibel, infrastruktur komputasi, dan pengembangan tenaga kerja.
Laporan menilai keterhubungan perdagangan, investasi, energi, rantai pasok, dan teknologi membuat negara-negara Asia Tenggara tetap saling bergantung. Karena itu, kerja sama regional dinilai semakin penting di tengah fragmentasi ekonomi global.













