Jakarta, CoreNews.id — Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan sebesar 26 poin atau 0,14 persen menuju level Rp 18.004 per dolar AS. Hal ini dilansir dari Bloomberg (29/9/2026), pukul 11.20 WIB. Dalam sepekan terakhir, rupiah mengalami tren pelemahan.
Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea, pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut. Sehingga yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23 persen atau level tertinggi sejak 2007.
Namun demikian, pergerakan rupiah tetap sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67 persen. Sementara itu cadangan devisa tercatat meningkat ke level 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026. BI juga dicatat memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar. Kecukupan likuiditas juga dijaga dengan meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI untuk pendanaan luar negeri.*













