Corenews.id
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini
Corenews.id
No Result
View All Result

Perang Siber Makin Canggih, ITSEC Asia Ungkap Strategi AI untuk 2025

by Teguh Imam Suyudi
6 Maret 2025 | 21:00
in Tekno
Ilustrasi Keamanan Siber

Ilustrasi Keamanan Siber (Gambar: Media Sosial)

Bagikan sekarang:

Jakarta, CoreNews.id – Kecerdasan buatan (AI) kini merevolusi dunia keamanan siber, memungkinkan perusahaan mendeteksi, memprediksi, dan menanggulangi ancaman dengan kecepatan dan akurasi tinggi. Seiring meningkatnya risiko siber, ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber terkemuka di Asia-Pasifik, mengungkap strategi 2025 yang berfokus pada solusi keamanan berbasis AI untuk menghadapi ancaman digital masa depan.

Menurut laporan industri, investasi global dalam keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) diprediksi melampaui $46 miliar pada 2028, dengan AI mampu memangkas waktu respons insiden hingga 96%.

“AI bukan lagi sekadar tambahan, melainkan kebutuhan utama,” ujar Joseph Edi Lumban Gaol, Presiden Direktur ITSEC Asia, dalam keterangannya, 10/02/2025.

“Dengan AI, bisnis dapat mendeteksi ancaman lebih cepat, mengotomatisasi respons, dan membangun strategi keamanan yang proaktif, bukan reaktif,” imbuhnya.

Pendekatan AI-first yang diterapkan oleh ITSEC Asia didukung oleh tiga teknologi utama: machine learning, analisis perilaku, dan otomatisasi—masing-masing berperan penting dalam memperkuat keamanan siber.

  • Machine Learning (ML) adalah “otak” di balik kemampuan AI untuk belajar dan beradaptasi. Teknologi ini memungkinkan sistem untuk terus menganalisis pola serangan dalam jumlah besar, sehingga dapat mengenali ancaman yang sudah dikenal maupun yang baru muncul.
  • AI secara keseluruhan bertindak sebagai pengendali yang menghubungkan berbagai model machine learning, mengolah informasi ancaman secara real-time, dan menjalankan mekanisme pertahanan prediktif sebelum atau saat serangan terjadi.

Untuk memaksimalkan potensi AI dalam keamanan siber, ITSEC Asia telah mengintegrasikan beberapa teknologi canggih:

  • User and Entity Behaviour Analytics (UEBA) – Mendeteksi aktivitas mencurigakan dan pola perilaku tidak biasa yang sering terlewat oleh sistem keamanan tradisional, memungkinkan deteksi dini terhadap akun atau sistem yang telah diretas.
  • Security Orchestration, Automation, and Response (SOAR) – Mengotomatisasi respons keamanan dalam hitungan detik, sehingga ancaman dapat segera dikendalikan tanpa perlu intervensi manual.
  • Generative AI Intelligence – Menghubungkan data ancaman dari berbagai sumber untuk memperkuat analisis prediktif dan respons keamanan, sehingga dapat mengurangi dampak serangan secara signifikan.
READ  Masa Jaminan Upgrade OS di iPhone Minimal 5 Tahun

AI tidak hanya memperkuat pertahanan siber, tetapi juga mengubah strategi keamanan dari reaktif menjadi ofensif. Dalam sektor kritis, AI bahkan dapat menetralisir serangan sebelum terjadi. Contohnya, AI dapat mengenali pola enkripsi mencurigakan pada ransomware sebelum menyerang, atau mendeteksi upaya phishing dengan menganalisis email berbahaya secara real-time.

Namun, AI juga membawa tantangan baru. Pelaku kejahatan kini menggunakan AI untuk:

  • Meluncurkan serangan otomatis dalam skala besar tanpa keterlibatan manusia.
  • Membuat deepfake yang bisa memanipulasi identitas dan transaksi keuangan.
  • Mengembangkan malware berbasis AI yang mampu menghindari deteksi.

Selain itu, keamanan AI itu sendiri menjadi perhatian utama. Jika AI menggunakan data yang telah dimanipulasi oleh peretas, sistem pertahanan otomatis bisa menjadi tidak efektif, atau lebih buruk, justru menjadi alat bagi penyerang.

“Bayangkan jika sebuah robot asisten yang tiba-tiba berbalik melawan kita,” ujar Joseph. “Jika peretas merusak sumber data AI, mereka bisa memanipulasi sistem keamanan otomatis sehingga tidak lagi efektif—atau lebih buruk lagi, menjadikannya alat bagi para pelaku kejahatan siber”, tambahnya.

Seperti halnya AI digunakan untuk melawan ancaman, AI itu sendiri juga harus dilindungi dari manipulasi. Artinya, keamanan AI harus bersifat dua arah—bukan hanya melindungi data yang dianalisis, tetapi juga menjaga integritas AI itu sendiri.

  • Jika AI menerima data intelijen yang sudah dimanipulasi oleh peretas, sistem prediksinya bisa disesatkan, sehingga menghasilkan peringatan palsu atau bahkan gagal mendeteksi ancaman nyata.
  • Jika model AI diretas, AI bisa menjadi celah baru bagi serangan siber, misalnya dengan menyebarkan informasi palsu atau mencuri data penting.
  • Penjahat siber juga bisa memanfaatkan AI untuk memberikan rekomendasi keamanan yang salah, sehingga perusahaan malah mengambil keputusan yang justru melemahkan pertahanannya.
READ  Perjalanan ITSEC Asia Pasca-IPO: Fokus pada Keamanan Siber yang Terjangkau

Menjaga keamanan dua arah berarti bukan hanya menggunakan AI sebagai alat pertahanan, tetapi juga mencegahnya menjadi titik lemah baru dalam sistem keamanan.

Tantangan Dalam Penerapan AI di Indonesia:

  • Minimnya tenaga ahli di bidang AI, sehingga integrasi AI dalam sistem keamanan masih terbatas.
  • Keterbatasan anggaran bagi sektor UMKM, membuat mereka sulit mengakses solusi keamanan siber berbasis AI.
  • Kesadaran akan risiko AI yang masih rendah, sehingga banyak bisnis belum memahami ancaman yang muncul dari teknologi ini.

“AI bukan pengganti para profesional keamanan siber—AI adalah alat pendukung yang memperkuat mereka,” tambah Joseph. “Meski AI bisa mengotomatisasi deteksi dan respons terhadap ancaman, keputusan strategis dan etika penggunaannya tetap bergantung pada keahlian manusia”, imbuhnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, ITSEC Asia berinvestasi dalam pelatihan dan sertifikasi, berkolaborasi dengan CERT Indonesia, serta terus berinovasi dalam solusi keamanan berbasis AI. Sebagai pemimpin industri, ITSEC Asia berkomitmen membantu bisnis menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks di era digital.

Tags: ITSEC AsiaPerang SiberStrategi AI
Previous Post

Avanade Tunjuk Megawaty Khie Sebagai Pemimpin Asia Tenggara

Next Post

Keamanan Siber Pilar Masa Depan Energi Bersih Indonesia

Next Post
Edwin Lim, Fortinet Indonesia

Keamanan Siber Pilar Masa Depan Energi Bersih Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PARIWARA

phe-raih-empat-penghargaan-top-grc-awards-2026

PHE Sabet Empat Penghargaan TOP GRC Awards 2026

10 September 2026 | 09:00
108-perusahaan-raih-top-grc-awards-2026

108 Perusahaan Raih Penghargaan TOP GRC Awards 2026

9 September 2026 | 19:00
pelatihan-itsm-msi-institute-juli-2026

MSI Institute Gelar Pelatihan IT Service Management, Bekali Profesional Kuasai Tata Kelola Layanan TI Berbasis ITSM

3 Juli 2026 | 16:00
Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

22 Desember 2025 | 17:00
Perumda Air Minum Kota Padang TOP Digital Awards 2025

Mengalirkan Inovasi, Menyemai Layanan: Perumda Air Minum Kota Padang Kembali Raih TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 09:00
Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 08:00

POPULER

Sementara itu, Presiden Direktur Iqtishad Consulting Indonesia yang juga Ketua Umum MASPERA (Masyarakat Peduli Agraria), Associate Professor Agustianto Mingka, M.A., menyampaikan materi mengenai metodologi yurisprudensi ekonomi Islam sebagai pendekatan untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan baru yang muncul seiring dinamika dan kemajuan ekonomi syariah di Indonesia.

KDEKS, Iqtishad Consulting dan Bank Indonesia Sulsel Gelar Sharia Economics Academic Development Forum 2026

27 Oktober 2026 | 14:07
sequis-life-asuransi-dwiguna

Literasi Asuransi Indonesia Meningkat, Inklusi Masih Rendah

25 Oktober 2026 | 17:00
Sebagai informasi, perubahan status indeks pasar modal oleh MSCI akan memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan dana global dan stabilitas makroekonomi suatu negara. Demikian pula jika kategori diturunkan dari Emerging Market menjadi Standalone Market, maka akan memiliki dampak yang ekstrem dibanding bila Indonesia tetap bertahan di status Emerging Market.

Adaptif dan Agile, Strategi OJK Jaga Pertumbuhan Berkelanjutan

28 Oktober 2026 | 17:32
Jakarta Fashion Week 2026 Resmi Dibuka, Angkat Warisan Budaya dan Regenerasi Desainer

Jakarta Fashion Week 2026 Resmi Dibuka, Angkat Warisan Budaya dan Regenerasi Desainer

27 Oktober 2026 | 11:39
Logo Danantara

Laba BUMN Naik 18,4 Persen Berkat Transformasi

27 Oktober 2026 | 09:00
5-kebiasaan-finansial-stabil-2026-ifg-life

Literasi Asuransi Indonesia Tertinggal dari Inklusi Keuangan

27 Oktober 2026 | 08:00
  • Redaksi Corenews.id
  • Pedoman Media Siber
  • Email Login

Corenews.id | All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini

Corenews.id | All Rights Reserved