Jakarta, CoreNews.id – Dunia rekrutmen memasuki babak baru di tahun 2026. Laporan eksklusif Jobstreet by SEEK mengungkap, AI (Kecerdasan Buatan) tak lagi sekadar alat bantu, namun menjadi standar keterampilan wajib yang dicari perusahaan.
Data menunjukkan, 71% perusahaan di Indonesia kini mempertimbangkan pengetahuan AI kandidat saat merekrut. “Kecakapan AI tak lagi eksklusif untuk insinyur, tapi menjadi keharusan di berbagai divisi,” ujar Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, dalam keterangannya, 28/1/2026.
Pergeseran ini menurunkan nilai pekerjaan administratif rutin, dan mengangkat kemampuan analisis, kreativitas, serta pemecahan masalah kompleks sebagai aset utama pekerja.
Tren unik lain adalah fenomena ‘job hugging’, di mana pekerja memilih bertahan di posisi saat ini untuk stabilitas, mengurangi mobilitas tenaga kerja alami. Imbasnya, perusahaan harus lebih agresif dalam employer branding dan menawarkan jalur karier yang jelas untuk menarik talenta.
Tantangan retensi juga semakin global, dengan 67% pekerja Indonesia berminat bekerja di luar negeri. Untuk mempertahankan bakat terbaik, perusahaan didorong menawarkan jalur karier yang transparan, peluang pembelajaran, dan fleksibilitas kerja yang kompetitif.
“2026 bukan tentang siapa yang rekrut paling cepat, tapi siapa yang mampu memetakan potensi talenta paling akurat. Portofolio dan micro-credentials menjadi bukti kompetensi yang krusial,” tutup Wisnu.













