Jakarta, CoreNews.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca panas di Indonesia masih akan berlangsung hingga awal Mei 2026. Kondisi ini merupakan bagian dari masa peralihan menuju musim kemarau.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, mengatakan suhu panas dan terik masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan. “Kondisi cuaca dengan suhu panas dan terik diprediksi masih dapat terjadi hingga awal Mei mendatang,” ujar Agita, Selasa (28/4/2026).
Puncak cuaca panas terjadi Mei 2026
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa secara klimatologis puncak suhu panas di Indonesia terjadi pada Mei. Hal ini berkaitan dengan posisi Matahari yang masih dekat dengan wilayah Indonesia.
Setelah periode tersebut, suhu udara diperkirakan menurun secara bertahap pada Juni 2026. Penurunan ini akan dirasakan di sejumlah wilayah, baik di bagian utara maupun selatan Indonesia.
Namun, BMKG mengingatkan bahwa suhu panas berpotensi kembali meningkat pada Agustus hingga September 2026, seiring dengan puncak musim kemarau.
Faktor penyebab suhu panas
BMKG menyebutkan, cuaca panas di Indonesia dipengaruhi minimnya tutupan awan akibat dominasi angin timuran dari Australia yang bersifat kering. Selain itu, intensitas penyinaran Matahari masih cukup tinggi.
Fenomena atmosfer tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuator juga turut memengaruhi kondisi cuaca, sehingga beberapa wilayah masih berpotensi mengalami hujan.
Data suhu tertinggi di Indonesia
Berdasarkan data BMKG, suhu maksimum tertinggi tercatat mencapai 36,7 derajat Celsius di Medan, Sumatera Utara. Sejumlah wilayah lain seperti Deli Serdang, Manokwari, hingga Jakarta juga mencatat suhu di atas 34 derajat Celsius.
BMKG menilai kondisi ini sebagai indikasi kuat bahwa Indonesia mulai memasuki fase awal musim kemarau 2026.













