Jakarta, CoreNews.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pemanfaatan protein kompleks fotosintesis reaction center-light harvesting 1 (RC-LH1) dari bakteri ungu Rhodobacter sphaeroides sebagai lapisan penyerap cahaya pada perangkat sel surya. Inovasi ini merupakan pengembangan teknologi sel surya berbasis pigmen fotosintesis bakteri ungu sebagai alternatif energi terbarukan. Ia memanfaatkan kemampuan alami bakteri dalam menangkap cahaya matahari untuk menghasilkan energi listrik.
Hal tersebut disampaikan Perekayasa Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN Tulus di Jakarta, (15/6/2026). Menurut Tulus, pendekatan tersebut menghadirkan terobosan baru dalam pengembangan teknologi fotovoltaik dengan mengadopsi mekanisme fotosintesis alami yang efisien dan aman karena bakteri yang digunakan tidak bersifat patogen. Teknologi ini juga masuk kategori sel surya generasi ketiga atau third-generation solar cells yang tergolong emerging photovoltaics, khususnya bio-solar cell, dengan keunggulan menggunakan material ramah lingkungan, diproses pada suhu rendah, dan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah.
Dari hasil penelitian awal menunjukkan adanya capaian yang menjanjikan. Perangkat bio-fotovoltaik yang dikembangkan mampu menghasilkan nilai open circuit voltage yang tinggi untuk kategori bio-fotovoltaik padat, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbaik pada bidang tersebut. BRIN kini berupaya meningkatkan arus listrik yang dihasilkan agar efisiensi perangkat semakin optimal.*













