Jakarta, CoreNews.id — “Nota Kesepahaman Islamabad” antara Teheran dan Washington telah ditandatangani sebelum jadwal penandatanganan yang telah ditetapkan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dokumen tersebut di Istana Versailles, Paris. Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian dicatat memperlihatkan lembar perjanjian yang telah ditandatangani pihak Iran.
Dikutip dari Aljazeera (19/6/2026), percepatan penandatanganan ternyata bukan sekadar langkah protokoler, melainkan mencerminkan keinginan bersama yang kuat untuk segera mengakhiri perang dan membuka kembali jalur energi dunia melalui Selat Hormuz tanpa harus menunggu dua hari lagi hingga pertemuan yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Jumat.
Menurut Ketua Tim Perunding Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan adanya Nota Kesepahaman Islamabad tersebut, negaranya berhasil meraih melalui diplomasi apa yang selama ini beberapa kali ingin dicapai lewat jalur militer, yakni pencabutan blokade pelabuhan, pembekuan sanksi, serta pelepasan aset-aset Iran yang bernilai miliaran dolar. Dengan adanya Nota Kesepahaman tersebut pula, pemerintahan Iran dicatat tetap bertahan, kemampuan rudal dan persediaan uranium yang diperkaya pada tingkat tinggi tidak dihancurkan. Teheran juga memperoleh keuntungan ekonomi dan dana investasi senilai 300 miliar dolar AS untuk program rekonstruksi.*













