Jakarta, CoreNews.id – Pemerintah akan mengambil alih penanganan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh melalui badan layanan khusus (special mission vehicle/SMV) PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan skema tersebut tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pelunasan utang akan bersumber dari keuntungan PT SMF.
“Jadi walaupun dikelola oleh pemerintah tidak akan membebani APBN. PT SMF kan juga punya untung, sebagian kita biarkan ke situ (pelunasan utang Whoosh),” ujar Purbaya, dikutip dari pemberitaan sejumlah media nasional, Rabu (5/8/2026).
Pengambilalihan dilakukan melalui kepemilikan 60 persen saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium BUMN yang menjadi bagian dari PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Pemerintah menargetkan pengalihan saham PSBI kepada PT SMF selesai pada pertengahan September 2026. Setelah proses tersebut, pemerintah akan menguasai 60 persen saham konsorsium Indonesia di KCIC. Adapun 40 persen saham milik konsorsium perusahaan China tetap dipertahankan.
Utang Whoosh Capai Rp118 Triliun
Beban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung diperkirakan mencapai 7,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp118,37 triliun. Sekitar 75 persen utang tersebut berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB).
Besarnya beban utang Whoosh selama ini menjadi tantangan bagi kondisi keuangan BUMN yang terlibat dalam konsorsium. PT KAI, sebagai pemegang saham mayoritas melalui PSBI, juga menghadapi kewajiban pembayaran bunga sekitar Rp2 triliun per tahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah telah mengomunikasikan rencana restrukturisasi utang tersebut kepada China.
China, menurut Airlangga, merespons positif langkah penyelesaian utang Whoosh. Pemerintah juga memastikan kerja sama proyek kereta cepat dengan China tetap berlanjut, termasuk peluang pengembangan jalur hingga Jawa Timur.













