Jakarta, CoreNews.id – Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) kepada DPR. Destry yang saat ini menjabat Gubernur BI sementara masih harus menjalani uji kelayakan dan memperoleh persetujuan DPR.
Pencalonan figur internal BI tersebut dinilai memberikan kepastian bagi pasar setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Pengalaman Destry di BI, pasar modal, perbankan, dan Lembaga Penjamin Simpanan dinilai dapat menjaga kesinambungan kebijakan bank sentral.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group Sana Ur Rehman, dalam rilis, 17/8/2026, mengatakan pencalonan Destry dapat menurunkan premi risiko terhadap rupiah, meski belum menjadi jaminan penguatan berkelanjutan.
Lima Faktor Penentu Prospek Rupiah
Pertama, kontinuitas kepemimpinan dapat mengurangi risiko transisi, tetapi tekanan eksternal terhadap rupiah tetap ada, terutama dari dolar AS dan kebutuhan devisa.
Kedua, inflasi Indonesia yang tercatat 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026 memberikan ruang bagi BI, tetapi pelonggaran suku bunga terlalu cepat berisiko menekan rupiah.
Ketiga, perbaikan neraca perdagangan dapat mendukung pasokan devisa. Namun, kenaikan harga minyak global tetap menjadi risiko karena Indonesia merupakan negara pengimpor minyak.
Keempat, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026. Pertumbuhan tersebut memberikan ruang bagi BI untuk memprioritaskan stabilitas tanpa mengorbankan momentum ekonomi.
Kelima, independensi BI akan menjadi perhatian investor. Keputusan suku bunga dan stabilisasi rupiah akan menjadi ujian terhadap kredibilitas bank sentral di tengah kebutuhan mendorong pertumbuhan.
Pasar selanjutnya menanti Rapat Dewan Gubernur BI pada 18–19 Agustus serta proses persetujuan Destry di DPR.












