Perusahaan bioteknologi Australia Uluu membangun rantai pasok rumput laut yang tertelusur dan berkelanjutan di Sulawesi Selatan.
Jakarta, CoreNews.id – Perusahaan bioteknologi asal Australia, Uluu, resmi hadir di Indonesia melalui pendirian PT Uluu Solusi Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengembangkan bahan alternatif untuk menggantikan plastik berbasis bahan bakar fosil.
Indonesia dipilih karena merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Uluu akan membangun rantai pasok rumput laut yang bersih, tertelusur, dan berkelanjutan dengan melibatkan pembudi daya serta mitra lokal.
Presiden Direktur PT Uluu Solusi Indonesia Dian Kurniawati mengatakan Indonesia memiliki peran penting dalam pengembangan material berbasis rumput laut.
“Melalui Uluu Indonesia, kami ingin membangun kemitraan lokal yang kuat serta memastikan ketertelusuran, praktik budi daya yang bertanggung jawab, dan manfaat bagi masyarakat pembudi daya rumput laut menjadi bagian dari rantai pasok kami sejak awal,” ujar Dian, dalam siaran pers, 4/9/2026.
Rumput Laut Ditelusuri Secara Digital
Uluu juga telah menyelesaikan pengiriman perdana rumput laut yang sepenuhnya tertelusur dari CV Persada Semesta di Sulawesi Selatan.
Bersama Koltiva, setiap tahapan perjalanan rumput laut dicatat secara digital, mulai dari pembudi daya, pengolahan, hingga pengiriman. Sistem tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi sekaligus membantu memperbaiki pengelolaan rantai pasok.
Dorong Sertifikasi ASC-MSC
Selain ketertelusuran, Uluu bersama Seafood Savers, sebuah inisiatif WWF-Indonesia, meluncurkan Aquaculture Improvement Program (AIP) di Luwu, Sulawesi Selatan.
Program ini bertujuan meningkatkan praktik budi daya dan pengelolaan rumput laut agar sesuai dengan standar ASC-MSC.
Jika berhasil, program tersebut berpotensi menjadi langkah menuju rantai pasok rumput laut bersertifikat ASC-MSC pertama di Indonesia.
Uluu menggunakan rumput laut sebagai bahan dasar untuk menghasilkan PHA melalui proses fermentasi. Material tersebut dikembangkan sebagai alternatif plastik berbasis fosil dan dirancang agar dapat terurai secara alami tanpa meninggalkan mikroplastik yang persisten.












