Jakarta, CoreNews.id — Teh jahe dapat menjadi alternatif minuman untuk menambah variasi asupan cairan sehari-hari selain air putih. Keduanya mendukung fungsi ginjal khususnya menjaga kecukupan cairan tubuh. Asupan cairan yang cukup membantu mencegah urine menjadi terlalu pekat serta mengurangi risiko dehidrasi dan batu ginjal.
Hal tersebut disampaikan Pakar Spesialis Nutrisi Ginjal, Michele Crosmer sebagaimana dilansir dari laman Eating Well, (13/10/2026). Menurut Michele, teh jahe juga mengandung polifenol yaitu senyawa alami yang memiliki sifat antioksidan. Senyawa ini mendukung fungsi mitokondria dan melindungi sel dari kerusakan yang berkaitan dengan penyakit kronis, termasuk penyakit ginjal.
Selain Michele Crosmer, Pakar Gizi Areli Gutierrez juga berpendapat sama. Menurutnya, teh jahe hangat berpotensi mendukung kesehatan ginjal karena kaitannya dengan pengurangan peradangan. Jahe mengandung sejumlah senyawa bioaktif, termasuk gingerol, shogaol, dan zingeron, yang berkontribusi terhadap sifat antioksidannya.
Jahe juga mengandung senyawa lain, seperti terpenoid, flavonoid, dan minyak atsiri, yang masih diteliti untuk mengetahui potensi manfaatnya bagi kesehatan, khususnya kesehatan jantung. Menurut Areli, kesehatan jantung dan ginjal saling berkaitan. Tekanan darah tinggì yang berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal. Karena itu, kebiasaan yang mendukung kesehatan jantung dan kelancaran aliran darah juga penting untuk diperhatikan.*













