Jakarta, CoreNews.id- Perubahan kondisi ekonomi mendorong masyarakat produktif semakin realistis dalam memilih hunian. Kepemilikan rumah tetap menjadi kebutuhan utama, namun kini banyak yang beralih ke kawasan sub-urban yang menawarkan harga lebih terjangkau dengan akses transportasi memadai.
Tren ini terutama terlihat di kalangan keluarga muda dan pembeli rumah pertama yang mempertimbangkan keseimbangan antara harga, aksesibilitas, potensi kenaikan nilai properti, hingga reputasi pengembang.
Sejumlah riset properti menunjukkan minat terhadap rumah tapak di kawasan penyangga kota besar masih akan meningkat. Leads Property Services Indonesia memproyeksikan permintaan rumah tapak tumbuh sekitar 5–6 persen pada 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh insentif pemerintah seperti PPN DTP dan suku bunga yang lebih kompetitif.
Menjawab kebutuhan tersebut, Kota Podomoro Tenjo hadir sebagai kawasan kota mandiri dengan konsep modern dan harga terjangkau. Marketing Director Agung Podomoro, Yenti Lokat, menyebut masyarakat kini semakin rasional dalam mengelola keuangan dan menjadikan rumah sebagai aset jangka panjang.
“Kota Podomoro Tenjo dikembangkan di atas lahan lebih dari 650 hektar. Saat ini sudah dibuka 10 klaster dan pengembangannya mencapai 150 hektar,” ujar Yenti dalam keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).
Sebagai bagian dari pengembangan, kawasan ini menghadirkan Midori at Cluster Mahogany, hunian dengan konsep arsitektur Jepang. Setiap unit dirancang dengan fasad tematik, lanskap khas, serta dilengkapi ruang terbuka hijau seperti inner greenbelt dan Mahogany Garden.
“Harganya mulai dari Rp 270 jutaan per unit, dengan cicilan sekitar Rp 1 jutaan per bulan,” kata Yenti.
Hingga kini, sekitar 5.400 unit rumah telah diserahterimakan dan sekitar 1.000 unit sudah dihuni. Hal ini menunjukkan kawasan tersebut mulai berkembang menjadi lingkungan hunian yang aktif.
Fasilitas yang ditawarkan juga cukup lengkap, mulai dari club house berstandar bintang lima, kolam renang, lapangan badminton indoor, private cinema, hingga coworking space. Selain itu, terdapat Masjid Agung Al Ikhlas Podomoro dengan kapasitas hingga 1.000 jamaah.
Ke depan, kawasan ini akan dilengkapi fasilitas pendidikan, kesehatan, serta sarana umum lainnya guna memperkuat konsep hunian terpadu.
Dari sisi aksesibilitas, Kota Podomoro Tenjo terintegrasi dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang terhubung langsung dengan KRL Commuter Line rute Tanah Abang–Rangkasbitung. Waktu tempuh dari Jakarta sekitar 40 menit. Pengembang juga menyediakan layanan shuttle dari stasiun ke kawasan.
CEO ERA Indonesia, Darmadi Darmawangsa, menilai kepemilikan rumah tidak seharusnya ditunda terlalu lama, terutama di tengah kenaikan harga properti.
“Jika tidak dikonversikan ke aset riil seperti properti, nilai uang bisa tergerus inflasi,” ujarnya.
Menurutnya, konsep rumah tumbuh yang diterapkan di Kota Podomoro Tenjo menjadi solusi bagi masyarakat. Pembeli dapat memiliki lahan terlebih dahulu dan mengembangkan bangunan secara bertahap sesuai kemampuan.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, kawasan ini dinilai mampu menjawab kebutuhan kelas menengah yang menginginkan hunian sekaligus investasi jangka panjang.













