Jakarta, CoreNews.id – PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) mendorong pemanfaatan solusi Elastic Observability yang terintegrasi dengan Dell ObjectScale untuk membantu perusahaan meningkatkan ketahanan operasional digital, menekan risiko gangguan layanan, serta mengelola pertumbuhan data secara lebih efisien.
Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin mengatakan, gangguan pada aplikasi bisnis dapat berdampak signifikan terhadap operasional perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan platform yang mampu memberikan visibilitas menyeluruh terhadap kondisi aplikasi, infrastruktur, jaringan, hingga lingkungan cloud.
“Integrasi keduanya membantu perusahaan memperoleh visibilitas menyeluruh atas kondisi layanan digital sekaligus menyediakan fondasi penyimpanan data yang aman, efisien, dan siap berkembang. Dampaknya, tim TI dapat merespons insiden lebih cepat, menjaga ketersediaan layanan, dan mendukung pertumbuhan bisnis berbasis data,” kata Achmad dalam seminar Unlock Resilient Digital Operations with Elastic Observability & Dell Infrastructure di Jakarta, belum lama ini.
Menurut data platform pengujian beban asal Prancis, Gatling, biaya akibat waktu henti (downtime) aplikasi dapat mencapai US$8.000 hingga US$50.000 per jam bagi perusahaan kecil. Kerugian tersebut meningkat menjadi sekitar US$260.000 per jam di sektor manufaktur, US$1 juta per jam pada layanan kesehatan, dan hingga US$5 juta per jam di industri perbankan.
Achmad menjelaskan, Elastic Observability mengintegrasikan log, metrik, jejak aplikasi (traces), dan data infrastruktur dalam satu platform sehingga memudahkan pemantauan dan analisis sistem secara real time. Dengan dukungan teknologi machine learning, solusi tersebut dapat mendeteksi anomali, mengidentifikasi akar penyebab gangguan, serta memberikan rekomendasi tindakan perbaikan.

Sementara itu, Division Head Server Multipolar Technology Jeffry Tjiung Sendjaja mengatakan, kemampuan observabilitas tersebut semakin optimal ketika dipadukan dengan Dell ObjectScale sebagai platform penyimpanan objek yang dirancang untuk mengakomodasi pertumbuhan data dalam skala besar.
“Dalam praktiknya, data observabilitas yang dikumpulkan Elastic dapat disimpan secara otomatis ke Dell ObjectScale sesuai kebutuhan. Kombinasi ini memungkinkan perusahaan menyimpan histori data observabilitas lebih lama, menelusuri kembali insiden dengan lebih mudah, dan tetap menjaga efisiensi biaya infrastruktur,” ujar Jeffry.
Ia menambahkan, Dell ObjectScale memiliki sejumlah fitur seperti scale-out architecture, geo-replication, enkripsi data, erasure coding, dan multi-tenancy yang mendukung pengelolaan data secara aman dan efisien.
Kebutuhan terhadap penyimpanan objek modern juga dinilai semakin meningkat seiring bertambahnya volume data tidak terstruktur yang digunakan untuk analitik, observabilitas, dan AIOps. Mengacu pada data IDC, sekitar 90 persen dari total datasphere global pada 2025 merupakan data tidak terstruktur sehingga membutuhkan sistem penyimpanan yang fleksibel dan mudah diskalakan.
Achmad mengatakan integrasi Elastic Observability dan Dell ObjectScale diharapkan dapat membantu perusahaan membangun operasional digital yang lebih tangguh melalui deteksi gangguan yang lebih cepat, penyimpanan data historis untuk kebutuhan analisis, serta kapasitas infrastruktur yang dapat berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.













