Jakarta, CoreNews.id – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking 13 proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2026). Agenda ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pengembangan industri berbasis nilai tambah di sektor-sektor strategis nasional.
Pelaksanaan proyek dilakukan secara serentak di sejumlah wilayah Indonesia. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap yang dikelola PT Pertamina (Persero). Proyek ini diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar dalam negeri.
Penguatan Infrastruktur Energi dan Industri
Selain kilang, pemerintah juga merencanakan pembangunan tangki operasional untuk penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) di beberapa lokasi, yakni Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), dan Maumere (Nusa Tenggara Timur). Infrastruktur ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas distribusi energi di kawasan timur Indonesia.
Di sektor industri logam, hilirisasi diwujudkan melalui pembangunan fasilitas manufaktur baja berbasis nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek ini melengkapi rantai pasok industri nikel nasional yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia.
Sementara itu, di Cilegon, Banten, pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon melibatkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku baja.
Hilirisasi Lintas Sektor Strategis
Tak hanya energi dan logam, pemerintah juga mendorong hilirisasi di sektor konstruksi melalui pengembangan ekosistem produksi aspal Buton di Karawang, Jawa Barat. Produk ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan material pembangunan infrastruktur nasional yang terus meningkat.
Di sektor energi alternatif, proyek pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, menjadi salah satu fokus utama. DME diproyeksikan sebagai substitusi LPG untuk kebutuhan rumah tangga.
Hilirisasi juga mencakup pengolahan logam mulia di Gresik, Jawa Timur, melalui pemurnian tembaga dan emas, serta pengolahan minyak sawit menjadi produk oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Dorong Nilai Tambah dan Pemerataan Ekonomi
Proyek lainnya meliputi pengolahan komoditas pala menjadi oleoresin di Maluku Tengah dan pembangunan fasilitas terpadu kelapa untuk menghasilkan produk turunan seperti MCT, tepung, dan arang aktif.
Pemerintah menilai langkah hilirisasi ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri, tetapi juga membuka lapangan kerja serta mendorong pemerataan ekonomi di berbagai daerah.
Dengan pelaksanaan tahap II ini, pemerintah berharap Indonesia semakin memperkuat posisi sebagai negara industri berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Adapun 13 proyek hilirisasi tahap II sebagai berikut:
- Proyek 1 dan 2: Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline di Dumai (Riau) dan Cilacap (Jawa Tengah);
- Proyek 3, 4, 5: Pembangunan Tangki Operasional BBM di Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), dan Maumere (Nusa Tenggara Timur);
- Proyek 6: Fasilitas Pengembangan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim (Sumatera Selatan);
- Proyek 7: Pengembangan Fasilitas Manufaktur Baja Nirkarat dari Nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah);
- Proyek 8: Pengembangan Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon dari Bijih Besi Lokal di Cilegon (Banten);
- Proyek 9: Ekosistem dan Fasilitas Produksi Aspal Buton di Karawang (Jawa Barat);
- Proyek 10: Hilirisasi Tembaga dan Emas di Gresik (Jawa Timur);
- Proyek 11: Pengolahan Sawit menjadi Oleofood dan Biodiesel di Sei Mangkei (Sumatera Utara);
- Proyek 12: Fasilitas Pengolahan Pala menjadi Oleoresin di Maluku Tengah (Maluku);
- Proyek 13: Fasilitas Terpadu Kelapa terintegrasi menghasilkan MCT, coconut flour, dan activated carbon di Maluku Tengah (Maluku).













