Jakarta, CoreNews.id – Ancaman pelanggaran yang difasilitasi teknologi atau tech-enabled abuse semakin meningkat di berbagai negara. Namun, sebagian besar korban ternyata tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami bentuk kekerasan digital tersebut.
Laporan terbaru Kaspersky mengungkapkan sebanyak 45,7 persen responden global pernah mengalami setidaknya satu bentuk tech-enabled abuse dalam 12 bulan terakhir. Ironisnya, hanya 32 persen responden yang memahami arti istilah tersebut.
Tech-enabled abuse merupakan tindakan negatif yang diperkuat teknologi digital, seperti ponsel pintar, media sosial, hingga platform daring. Bentuknya beragam, mulai dari pelecehan online, pengucilan digital, penguntitan siber, pencurian identitas, hingga pemantauan tanpa izin.
Kesadaran Masyarakat Masih Rendah
Profesor Madya UCL Computer Science sekaligus Head of Gender and Tech Research Lab, Dr Leonie Maria Tanczer, mengatakan rendahnya pemahaman publik membuat banyak kasus tidak dikenali maupun dilaporkan.
“Kurangnya kejelasan mengenai bentuk penyalahgunaan berbasis teknologi membuat banyak pengalaman korban tidak disebutkan dan tidak mendapatkan dukungan,” ujarnya, 20/5/2026.
Studi Kaspersky juga menunjukkan bahwa korban umumnya mengalami lebih dari satu bentuk pelanggaran digital. Rata-rata responden menghadapi 2,7 jenis perilaku penyalahgunaan berbeda.
Bentuk ancaman yang paling umum adalah pemblokiran atau pengucilan digital dengan tujuan merugikan korban sebesar 16,7 persen. Selain itu, 15,1 persen responden mengaku menerima pesan bernada kasar dan menyinggung.
Ancaman Stalkerware Meningkat
Kaspersky juga menyoroti peningkatan ancaman stalkerware, yakni perangkat lunak yang memungkinkan pelaku memata-matai aktivitas korban melalui perangkat seluler.
Melalui aplikasi tersebut, pelaku dapat memantau lokasi, pesan singkat, riwayat panggilan, hingga aktivitas internet korban secara diam-diam.
Sepanjang 2024–2025, lebih dari 34.000 pengguna terdeteksi terdampak stalkerware di lebih dari 160 negara. Rusia, Brasil, dan India menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi.
Peneliti Keamanan Utama Kaspersky, Tatyana Shishkova, mengatakan sebagian besar korban tidak menyadari perangkat mereka sedang diawasi.
Karena itu, pengguna disarankan memakai aplikasi keamanan terpercaya, menggunakan kata sandi kuat, serta mewaspadai tanda-tanda seperti baterai cepat habis dan munculnya aplikasi asing pada perangkat.
Kaspersky juga mendorong kolaborasi global melalui Coalition Against Stalkerware untuk membantu korban kekerasan digital dan penguntitan siber.













