Jakarta, CoreNews.id – Obligasi kini menjadi salah satu instrumen investasi yang paling dikenal masyarakat dan kembali menjadi sorotan setelah tingginya minat investor terhadap obligasi global yang diterbitkan BPI Danantara Indonesia. Namun, jauh sebelum menjadi bagian penting pasar keuangan modern, obligasi telah digunakan selama ratusan tahun untuk membiayai berbagai kebutuhan negara dan dunia usaha.
Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), penggunaan obligasi pertama kali tercatat di Eropa pada abad pertengahan. Saat itu, pemerintah dan lembaga keagamaan menerbitkan surat utang untuk membiayai perang serta pembangunan fasilitas publik. Seiring perkembangan ekonomi, instrumen ini semakin populer di Belanda dan Inggris pada abad ke-17 untuk mendanai ekspedisi pelayaran dan perdagangan internasional.
Pada abad ke-18 hingga ke-19, obligasi menjadi sumber pembiayaan utama pembangunan infrastruktur seperti jalur kereta api, kanal, dan pelabuhan di Amerika Serikat serta Eropa. “Perkembangan pasar obligasi semakin pesat setelah Perang Dunia II, seiring meningkatnya kebutuhan modal jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi global.”
Di Indonesia, obligasi telah dikenal sejak era kolonial Belanda dan berkembang pesat setelah berdirinya bursa efek pertama di Batavia pada 1912. Kini, selain obligasi pemerintah dan korporasi, pasar juga menawarkan sukuk serta obligasi global yang menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi pembangunan nasional.













