CoreNews.id, Jakarta – Rusia menuntut agar kesepakatan damai dengan Ukraina mencakup jaminan bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO dan tetap netral. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, menyampaikan hal tersebut pada Selasa (18/3/2025), dikutip dari BBC News.
“Kami akan menuntut agar jaminan keamanan yang kuat menjadi bagian dari perjanjian ini,” kata Grushko. “Bagian dari jaminan ini harus mencakup status netral Ukraina dan penolakan NATO untuk menerimanya ke dalam aliansi.”
Pertemuan Trump dan Putin
Pernyataan Grushko muncul menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa. Pertemuan ini dilakukan untuk membahas upaya gencatan senjata dalam perang tiga tahun di Ukraina.
Trump menyatakan bahwa upaya diplomasi intensif dilakukan sepanjang akhir pekan untuk mencapai kesepakatan, termasuk mengenai wilayah, pembangkit listrik, dan pembagian aset antara Rusia dan Ukraina.
Usulan Gencatan Senjata
AS dan Ukraina telah mengusulkan gencatan senjata selama 30 hari kepada Rusia. Putin menyatakan dukungan terhadap gencatan senjata, tetapi mengajukan beberapa syarat, termasuk pengawasan terhadap garis depan di timur.
Salah satu isu utama adalah wilayah Kursk di Rusia, yang sempat dikuasai pasukan Ukraina dalam serangan militer pada Agustus lalu. Putin mengklaim bahwa Rusia telah merebut kembali wilayah tersebut dan mengisolasi pasukan Ukraina.
Sikap Ukraina dan Tanggapan Barat
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Putin berusaha menggagalkan upaya diplomasi dengan menetapkan tuntutan sulit. Sementara itu, utusan AS Steve Witkoff menolak menjawab soal status wilayah yang saat ini diduduki Rusia.
Rusia saat ini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk daerah strategis. Meski begitu, Ukraina tetap mencari dukungan dari negara-negara Barat untuk mempertahankan kedaulatannya, sementara Barat terus memberikan bantuan militer dan keuangan.