Jakarta, CoreNews.id – Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2026 membahas berbagai isu strategis terkait kepemimpinan, penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), serta pemanfaatan teknologi digital dalam menjawab tantangan zaman. Forum yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, itu menegaskan pentingnya menjaga nilai dasar organisasi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhadjir menyatakan bahwa NU memiliki prinsip-prinsip yang bersifat tetap dan tidak dapat berubah oleh perkembangan situasi maupun kondisi. Menurutnya, Qanun Asasi, posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan, Pancasila sebagai dasar organisasi, serta ideologi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah merupakan nilai yang harus dipertahankan. Sementara itu, mekanisme pemilihan pemimpin dapat disesuaikan sepanjang tetap berlandaskan musyawarah.
Ketua PBNU KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa Munas dan Konbes harus menghasilkan keputusan yang mencerminkan kepedulian NU terhadap masa depan umat, bangsa, dan negara. Ia menyoroti pentingnya penguatan lembaga filantropi, pengembangan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk dakwah dan penyebaran nilai-nilai Islam.
“Kita tidak bisa mengingkari, lepas dari kehidupan digital ini. Tidak seorang pun yang bisa bebas dari dunia digital,” ujarnya.
Menurut KH Anwar, NU perlu mengonsolidasikan potensi besar warganya yang tersebar di berbagai bidang, mulai dari akademisi, profesional, pengusaha, tenaga kesehatan, hingga ahli teknologi informasi. Konsolidasi tersebut diharapkan mampu memperkuat peran NU dalam pembangunan nasional sekaligus menjawab tantangan masa depan secara lebih efektif.













