Jakarta, CoreNews.id – Pemerintah Perancis menawarkan kerja sama pengembangan energi nuklir kepada Filipina seiring rencana Manila menghidupkan kembali program energi atom yang telah lama terhenti. Tawaran itu disampaikan Duta Besar Perancis untuk Filipina, Marie Fontanel, setelah Presiden Ferdinand Marcos Jr menyatakan negaranya perlu kembali mempertimbangkan pemanfaatan energi nuklir untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kami akan memastikan itu aman. Kami juga akan memastikan manfaat energi nuklir dijelaskan dengan baik kepada masyarakat,” ujar Marcos.
Menurut Fontanel, pembahasan kerja sama nuklir telah berlangsung sejak 2023. Perancis juga membuka peluang hibah serta dukungan teknis melalui perusahaan listrik EDF, termasuk dalam aspek keselamatan reaktor, regulasi, dan pengelolaan limbah radioaktif. Sebagai negara yang memperoleh sekitar 70 persen listriknya dari tenaga nuklir, Perancis dinilai memiliki pengalaman yang dapat membantu Filipina membangun kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia.
Meski demikian, rencana tersebut masih dibayangi kegagalan proyek PLTN Bataan yang mangkrak sejak 1984 akibat isu korupsi, risiko seismik, dan dampak tragedi Chernobyl. Sejumlah analis menilai pengembangan nuklir membutuhkan waktu panjang, tata kelola yang kuat, serta dukungan publik sebelum dapat diwujudkan.













