Jakarta, CoreNews.id — MSCI dalam tinjauan aksesibilitas pasar yang dirilis hari Kamis (18/6/2026), menurunkan kriteria aliran informasi Indonesia menjadi negatif. MSCI adalah salah satu penyedia indeks pasar terbesar di dunia yang menjadi acuan miliaran dolar investasi pasif. Penurunan kriteria tersebut, mencerminkan adanya opasitas (ketidakjelasan) dalam data kepemilikan dan aktivitas pasar, yang dinilai merusak pembentukan harga yang tepat serta membatasi kemampuan investor global untuk menilai jumlah saham publik (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan terkait.
Dengan adanya penurunan status, akan memaksa dana indeks (tracking funds) untuk melakukan aksi jual. Selain itu, kondisi ini akan menekan para manajer investasi aktif yang berbasis pada indeks MSCI untuk segera mengurangi eksposur mereka di Indonesia.
MSCI juga menyingkap kekhawatiran yang lebih mendalam mengenai arah perekonomian Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Langkah-langkah kebijakan yang populis serta kekhawatiran atas kesehatan fiskal negara telah mendorong nilai tukar rupiah ke rekor terendah.
Sebagai informasi, indeks harga saham gabungan Jakarta (IHSG) hingga saat ini dicatat telah merosot 29 persen sepanjang tahun ini, dengan investor asing telah melepas sekitar 3,65 miliar dolar AS aset saham Indonesia sepanjang tahun 2026.*













