Jakarta, CoreNews.id — Potensi PHK di lima sektor industri dalam tiga bulan ke depan, yakni tekstil dan produk tekstil, plastik, elektronik, otomotif, serta semen telah disampaikan kalangan buruh Indonesia. Tekanan disebut berasal dari pelemahan daya beli, kenaikan biaya impor bahan baku, dan ketidakpastian ekonomi global.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi industri tidak bisa hanya dilihat dari perusahaan yang mengalami penurunan atau penutupan usaha. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas lima persen seharusnya juga mendorong munculnya perusahaan baru dan penyerapan tenaga kerja,” kata Purbaya dalam Bincang Bareng Media di Kebon Sirih, Jakarta (6/5/2026).
Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan banyak kebijakan antisipasi atas kekhawatiran yang ada. Pertama. Pemerintah akan menjaga likuiditas perbankan agar pembiayaan untuk dunia usaha tetap tersedia. Langkah itu diharapkan bisa menopang ekspansi industri di tengah perlambatan global. Kedua. Pemerintah akan menyiapkan dukungan khusus bagi industri manufaktur berorientasi ekspor, terutama sektor tekstil yang dinilai mulai kesulitan memperoleh pinjaman dari perbankan karena dianggap sebagai sunset industri. Ketiga. Pemerintah akan memperketat pengawasan terhadap barang impor ilegal dan menjaga daya beli masyarakat untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.*













