Jakarta, CoreNews.id — Rupiah dibuka melemah 37 poin ke posisi Rp 18.003 per dolar AS pada Kamis, 4 Juni 2026. Mengutip dari Bloomberg, hingga sekitar pukul 13.06 WIB, rupiah kembali terkoreksi ke level Rp 18.043 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti di Jakarta (4/6/2026), dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah adanya eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Menurutnya kembali, meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut menahan prospek perdamaian kawasan, mendorong harga minyak tetap tinggi, serta meningkatkan risiko inflasi global dan arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu pada faktor internal adalah tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri. Faktor ini turut memberi tekanan terhadap rupiah. Permintaan valuta asing masih besar untuk keperluan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri. Sekalipun demikian, pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional. Hingga akhir April 2026, rupiah tercatat melemah 7,44 persen secara year to date (YTD), sementara cadangan devisa Indonesia tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar.
Guna menjaga stabilitas nilai tukar, BI akan meningkatkan intensitas intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI juga memperketat pembelian dolar AS tanpa underlying dengan menurunkan batas maksimal dari US$ 50 ribu menjadi US$ 25 ribu per orang per bulan sejak 2 Juni 2026. Bank sentral saat ini juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Skema ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meredam volatilitas nilai tukar.*












